Dokumen pribadi penulis

Semerbak wangi parfum Arab, lukisan senyum di tiap wajah jamaah salat id, dan deru ceria anak-anak menjadi pemandangan rutin lebaran setiap tahun. Orang-orang memakai busana baru; anak-anak berebut dan pamer pendapatan angpao mereka masing-masing; kue nastar tertumpuk di meja ruang tamu. Pesta seperti ini bertahan hampir hingga satu pekan. Selalu ada sanak saudara yang berkunjung ke rumah sanak saudaranya. Mereka berbagi kebahagiaan.

Selama pesta lebaran ini segala sesuatu ada: ramah tamah, kebahagiaan, baju baru, uang baru, pengantin baru, dan hutang baru. Hanya ada satu hal yang belum tentu ada, yang seharusnya ada dan menjadi baru, yaitu peningkatan keimanan.

Lebaran adalah hari yang bertabur ironi. Satu Syawal adalah saatnya muslim kembali ke kemalasan, kebodohan, kemaksiatan, dan keteledorannya masing-masing sebagaimana adanya mereka sebelum Ramadan. Keimanan mereka meningkat hanya sebulan. Setelah itu, mereka kembali ke setting-an asli. Hal ini berlaku pada kebanyakan muslim. Apalah artinya puasa tanpa mokel jika mulai satu Syawal kembali ke rutinitas kemaksiatan sebelumnya? Hal ini juga berlaku pada ibadah ritual lainnya.

Banyak muslim tidak sadar bahwa Islam bukanlah agama yang hanya berkutat di masjid, sajadah, mushaf, dan biji tasbih. Masih ada anggapan bahwa keislaman seseorang diukur berdasarkan kerajinan salat, puasa, dan sedekah. Bukan berarti ibadah ritual semacam itu tidak penting, namun hal itu hanyalah bare minimun. Sejatinya, keislaman seseorang tidak hanya diukur berdasarkan kerajinan menunaikan ibadah ritual, tetapi juga diukur berdasarkan peningkatan kualitas diri. Menjadi muslim yang benar adalah menjadi manusia yang rajin beribadah dan memiliki kepribadian yang terus menerus membaik.

Bulan Syawal hingga Sya’ban merupakan masa pembuktian peningkatan kualitas diri seorang muslim. Selain dari dimensi fikih, bukti diterimanya puasa seorang muslim juga dapat dilihat dimensi self development. Kita bukan muslim sejati jika memaknai lebaran sebagai kemerdekaan dari penjajahan kewajiban berpuasa lalu kembali rutin bermaksiat.